Mengunjungi Masjid Dian Al-Mahri (Kubah Emas)
1 februari
lalu, aku pergi ke Masjid Kubah Emas yang terletak didaerah Depok. Bersama dua
orang kawanku yaitu Asry dan Yuni. Aku adalah type orang yang suka jalan-jalan
dan juga orang yang suka bikin ide gak jelas hehe kunjunganku ke Masjid Dian
Al-Mahri atau Masjid Kubah Emas ini adalah memang ideku, sebenarnya ide ini
udah lama ada dipikiran cuma baru tercetus ketika didepan Asry dan Yuni.
Saat itu
ide pertama adalah aku ingin sholat zuhur di Istiqlal lalu sholat ashar di
Kubah Emas terus sholat maghrib di At-tawun dalam satu hari, Asry dan Yuni yang
mendengar ideku mereka merespon dengan baik. Outfit kita saat itu menggunakan
gamis dengan warna sama. Adalah Yuni yang mengusulkan menggunakan baju Gamis, aku
langsung setuju karena mengingat kepantasan seorang muslimah berkunjung ke
sebuah tempat ibadah dengan pakaian yang tertutup dengan baik.
Setelah
beberapa kali pertimbangan nampaknya kita ragu jika dalam satu hari kita bisa
berkunjung ke 3 masjid sekaligus, mengingat kita menggunakan angkutan umum dan
jaraknya agak lumayan jauh dari masjid satu ke masjid yang lain. Jadi kita
memutuskan untuk berkunjung ke Masjid Kubah Emas terlebih dahulu.
Setelah
hari yang sudah ditentukan itu tiba, kami bertiga pergi menggunakan kereta lalu
disambung menggunakan grabcar. Aku bersyukur hidup pada jaman ini yang akses
transportasinya sudah mudah untuk kemana-mana. Jadi kita bertiga biarpun
cewek-cewek gak khawatir. Kunjungan kali ini memang yang kedua kali untukku.
Tapi pertama kali aku ke Masjid Kubah emas adalah ketika aku SD dan itu sudah
lama banget hehe aku gak tau jalan jika kesana lagi tapi kita tidak takut
nyasar atau takut dijahatin orang karena aku sudah besar dan jago silat hehe
Kita
berkumpul distasiun bekasi sekitar jam setengah 10 naik kereta yang arah bogor tapi
transit dulu di Stasiun Manggarai. Lalu turun distasiun Depok. Sampai sana
sudah mau jam 12 jadi kita memutuskan untuk makan siang dulu. Kita makan
diwarung makan soto. Disana aku bertemu dengan guru Fisika ku sewaktu SMA yaitu
Bu Wahyu atau aku biasa memanggilnya Bunda Wahyu. Dia kelihatannya sedang
memilih makanan untuk dibungkus, diwarung itu juga menjual makanan lauk matang.
Setelah
makan kita langsung memesan Grabcar untuk bisa sampai ke Masjid Kubah Emas.
Sekitar 25 menit dari stasiun kita sudah sampai didepan gerbang masuk Masjid
Kubah Emas. Sesampainya entah kenapa yang aku rasakan adalah senang, aku merasa
berada di Istanbul, Turki. Yaa aku memang belum pernah ke Turki tapi anggap
saja aku sedang diTurki. Salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Dari
gerbang masuk sampai ke masjid lumayan jauh jadi kita bisa sambil foto-foto
dengan pemandangan Masjid berkubah emas itu. Jalanan yang lenggang dan halaman
yang luas menarik aku untuk melepas semua bebanku saat itu dengan berlari-lari
seolah badanku lebih ringan dari kapas yang tertiup angin, lepas dan bebas.
Awan
mendung memberi kesan teduh saat itu sangat syahdu mendukung suasana hatiku
yang sedang merindu. Merindukan Allah SWT. Aku minta tenang. Dan disana aku
tenang dan damai. Tiba-tiba gerimis dan semakin deras. Kami memutuskan untuk
bergegas mencari tempat berteduh. Tak lama kemudian kami mencari jalan menuju
masjid untuk menunaikan shalat zuhur. Dengan pakaian yang sedikit kuyup kami
mencari kehangatan didalam Masjid. Kami shalat dan tenang berdiam didalam
masjid sambil melihat ornament-ornament didalam masjid yang begitu indah.
Sesekali aku ambil gambar dan menjaga agar tidak menganggu yang lain yang
sedang beribadah. Aku teringat Istanbul, Masjid Sultanahmet. Aku tak bisa
membayangkan betapa senangnya jika aku bisa kesana sedangkan aku dimasjid ini
saja sudah begitu senang. Merasakan ketenangan dan merasa dekat dengan Allah
SWT. Tapi aku berpikir, sebenarnya bukan masalah tempatnya dimana. Kita tetap
bisa merasakan ketenangan dimanapun asal suasana disekitar kita mendukung. Hal
yang membuat kita tenang dan senang bisa saja dari hal-hal yang memang
sederhana. Bisa berkunjung ke masjid ini adalah ketenangan yang aku dapatkan
tanpa harus mahal-mahal ke Turki yang mungkin ternyata hanya untuk menuntaskan
ambisiku atas hal yang menurutku sulit.
Turki
adalah impianku setelah masjid Nabawi atau Masjidil Haram dan Dome Of Rock di palestina. Tempat
yang membuat aku berpikir “bisa gak ya aku kesana?” tapi dengan ide-ide yang
seperti ini aku akan tetap hidup, menjalani hidup, menjalani apa yang aku suka.
Turki adalah impian, biarkan dia menggantung setiap saat disana, dan hanya
butuh keajaiban aku bisa pergi kesana. Yang harus aku lakukan adalah tetap
hidup, tetap menjaani hidup tanpa adanya beban yang berarti. Dan aku percaya
setiap hal yang kita jalani mesti kita syukuri. Sudah kodratnya manusia harus
terima jika masing-masing individu adalah berbeda. Kesenangan yang didapat
setiap individu juga berbeda. Dan setiap manusia mempunyai rata-rata waktu yang
sama, jadi antara manusia satu dengan yang lain pengalamannya akan berbeda
tidak bisa disamakan. Itu yang biasa aku sebut batas. Aku belajar bersyukur dari
situ, aku percaya bahwa setiap individu selalu menginginkan apa yang tidak kita
miliki, nah batas adalah hal yang mampu mengontrol rasa bersyukur kita. Dimana
kita bisa mensyukuri apa yang saat ini kita miliki atau yang kita bisa lakukan.
Dan tulisan
ini hanya untuk menuangkan apa yang ingin aku tuangkan. Rasanya lega bisa
berbagi walaupun sedikit ngelantur dan gak structural. Hehe aku masih amatir
dalam dunia kepenulisan. Tapii satu hal yang aku tahu, bahwa aku boleh saja
salah tapi jangan pernah berhenti. Jika salah ya belajar untuk benar bukan
menyerah. Karena menyerah itu hanya akan menjerumuskan kita pada ketidaktahuan
selamanya.
Sekian.
Oiya
rencana selanjutnya adalah ke masjid at-tawun. Insyaallah terlaksana.





Komentar
Posting Komentar