Detik Selanjutnya
Dulu sekali, aku pernah terpenjara dan buta.
Dikakiku terikat bola besi yang memberatkan langkahku kemanapun
Berat melangkah dan tak bisa kemana-mana
Selalu cemas dalam tuduhan yang menyebalkan, dan selalu tertidur diatas kertas-kertas berserakan; tempat dimana dongeng ingin kubacakan
Dan kau hadir
Kian punah cemasku ketika kau hadir dalam wujud yang sedikit berbeda
Membawa sejuta misteri dengan dua lembar kertas
Kertas yang pertama untuk menutup kisah lama yang usang
Kertas yang kedua untuk pembuka cerita kita
Belum tuntas aku mendongeng duka-duka masalalu, tibatiba aku ingin menyerah dan berhenti menjadi pendongeng
'Barangkali kamu lebih cocok menjadi ibu dari anak-anak kita' katanya sambil cengengesan
Malam itu diantara riuh kesibukan manusia, dia menjadi satusatunya pusat perhatian bagi mata, hati, dan pikiranku; menggebu
Semesta yang sudah ada namun baru kutemukan; dengan cara yang lain, dengan keadaan yang lain
Namun inilah kenyataannya, bahwa aku telah jatuh pada orang yang sebenarnya baru ku kenal, lebih tepatnya berkenalan ulang, lebih akuratnya berkenalan dengan wujudnya yang berbeda
Detik pertama, kenyataan itu menjadi sebuah lelucon yang sungguh mengasyikan untuk ditertawakan
Detik selanjutnya, aku mulai menyadari bahwa kenyataan adalah alasan kita selalu hidup dan bersyukur dan bahagia dan nyata
Detik berikutnya, aku teringat dengan bola besi yang dulu selalu memberatkan langkahku, diantara jari-jari tanganku terkepal sebuah kunci yang selama ini digenggam oleh dendam
Pelan-pelan ku buka bola besi itu dari kakiku, merasa bodoh telah banyak membuang waktu
Detik yang ke entah berapa kali, aku merasa bebas untuk jatuh dan mencinta kepada siapa yang tidak bisa kita tentukan sama sekali
Dan dia hingga kini dan selamanya akan menjadi sesuatu yang lebih nyata daripada dongeng-dongeng itu.
Januari,2019
(Dikamar tidur dan sedang tidak enak badan)
Dikakiku terikat bola besi yang memberatkan langkahku kemanapun
Berat melangkah dan tak bisa kemana-mana
Selalu cemas dalam tuduhan yang menyebalkan, dan selalu tertidur diatas kertas-kertas berserakan; tempat dimana dongeng ingin kubacakan
Dan kau hadir
Kian punah cemasku ketika kau hadir dalam wujud yang sedikit berbeda
Membawa sejuta misteri dengan dua lembar kertas
Kertas yang pertama untuk menutup kisah lama yang usang
Kertas yang kedua untuk pembuka cerita kita
Belum tuntas aku mendongeng duka-duka masalalu, tibatiba aku ingin menyerah dan berhenti menjadi pendongeng
'Barangkali kamu lebih cocok menjadi ibu dari anak-anak kita' katanya sambil cengengesan
Malam itu diantara riuh kesibukan manusia, dia menjadi satusatunya pusat perhatian bagi mata, hati, dan pikiranku; menggebu
Semesta yang sudah ada namun baru kutemukan; dengan cara yang lain, dengan keadaan yang lain
Namun inilah kenyataannya, bahwa aku telah jatuh pada orang yang sebenarnya baru ku kenal, lebih tepatnya berkenalan ulang, lebih akuratnya berkenalan dengan wujudnya yang berbeda
Detik pertama, kenyataan itu menjadi sebuah lelucon yang sungguh mengasyikan untuk ditertawakan
Detik selanjutnya, aku mulai menyadari bahwa kenyataan adalah alasan kita selalu hidup dan bersyukur dan bahagia dan nyata
Detik berikutnya, aku teringat dengan bola besi yang dulu selalu memberatkan langkahku, diantara jari-jari tanganku terkepal sebuah kunci yang selama ini digenggam oleh dendam
Pelan-pelan ku buka bola besi itu dari kakiku, merasa bodoh telah banyak membuang waktu
Detik yang ke entah berapa kali, aku merasa bebas untuk jatuh dan mencinta kepada siapa yang tidak bisa kita tentukan sama sekali
Dan dia hingga kini dan selamanya akan menjadi sesuatu yang lebih nyata daripada dongeng-dongeng itu.
Januari,2019
(Dikamar tidur dan sedang tidak enak badan)
Komentar
Posting Komentar