Sebuah Dongeng

Perkenalkan aku adalah budak yang tinggal diujung jalan itu, sebatang kara.
Mencari nafkah hanya dari melukis dan menulis
Aku berkawan dengan para seniman jalanan yang berpenampilan semrawut, dengan ucapan-ucapannya yg kasar, setiap percakapan selalu ada kata 'bangsat, sialan, dll' pernah suatu hari aku bertanya 'kenapa harus menggunakan kata kasar, jika kita bisa memilih utk berucap lebih halus?' mereka  menjawab 'Karakter! Kami bukan orang lemah. Hidup membuatnya begini!'
Aku tidak setuju.
Tapi walau bagaimanapun bagiku  mereka tetap orang baik, hanya mereka yang aku punya.

Ada seorang tuan putri tinggal di istana besar di sebelah danau,  dengan auranya yg tak terkalahkan yang membuat pangeran jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya.
Tuan putri seperti kebanyakan tuan puteri yg lain, mempunyai kepribadian lembut dan baik hati tapi sayangnya selalu merasa kesepian diistana yang megah.
Dia selalu merasa hidupnya penuh kesedihan padahal dia memiliki segalanya, bahkan sekarang dia memiliki pangeran, yang dia butuhkan hanyalah kehadiran pangeran memang. Hanya itu. Kesempurnaan. Dengan pangeran dia sempurna.
Agar tuan putri tetaplah menjadi tuan putri.

Sebelum pangeran menjadi pangeran, dia pernah menjadi pemuda yg menyenangkan dengan gitarnya, bernyanyi disini dengan seniman-seniman dan aku terhibur, hanya aku.
Bodohnya aku jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya.
Bodohnya lagi, seluruh istana mendengar kabar itu. Katanya 'istana sedang terancam'

Bukan tuan puteri namanya jika tidak memiliki musuh, sayangnya musuhnya adalah aku. Dongeng ini akan bernama Budak dan Tuan Puteri. Tak sebanding. Memang.
Semua sudah tahu siapa yang akan menang.

Semua laki-laki membutuhkan dua tipe alas kaki, sepatu formal dan sendal jepit.
Dari sini semua orang sudah bisa menilai bahwa akulah yg menjadi sendal jepitnya.

Pangeran bukanlah pangeran dimataku, dia hanya pemuda beralaskan sendal jepit yg menyenangkan dan tidak peduli dengan aturan aturan. Tapi dunia menuntutnya lebih dari itu. Dia harus tetap menjadi pangeran dengan sepatu formal dan seorang kekasih tuan puteri.

Namun, kehadiranku dan kabar-kabar itu. Menjadikan aku lebih buruk dari sendal jepit.
Aku ancaman.
Entah mengapa justru aku yang lebih merasa diancam.
'sialan! Ada kah yang lebih buruk dari ini? Aku tidak akan merebut pangeran darimu tuan puteri. Kita ini mencintai dua manusia yg berbeda, kau mencintai pangeran dengan sepatu formal, aku mencintai pemuda menyenangkan dengan sendal jepit.
Bangsat! Semua mata melihatku sebagai benalu yg dapat merusak kesejatian cinta pangeran dan tuan puteri. Seolah-olah aku adalah kesalahan, aku si antagonisnya, aku sipenghambat kesempurnaan kalian'

Aku benci cerita dongeng.
Dongeng hanya untuk manusia-manusia sempurna. Dibalik setiap kesempurnaan cerita dongeng, selalu ada yang rela menjadi cacat dan dipandang antagonis.
Sungguh ironis, bahwa ternyata harus aku yang menjalani peran itu.
Aku lebih suka hidup nyata, tidak perlu menuntut kesempurnaan.
'walau tidak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya'

Bagiku
Bisa hidup saja sudah bersyukur.
Bangsat!
Aku kini setuju dengan seniman-seniman itu.

Komentar