Kado Ulang Tahun

Ini kisahnya
Tentang si petualang yang sepuluh bulan tidak pulang
‘saya pulang, selalu pulang. Rumah bagi saya adalah dimanapun saya selalu merasa pulang’ jelasnya selalu
Terserah apa katamu, bagiku kamu tetap jauh dari jangkauan mataku
‘hati saya tetap disana, sayang. Kamu rumah terakhir saya’
Rayuannya yg akhirnya menyelimutiku sebelum babak belur dengan rindu
‘saya akan pulang nanti dibulan kelahiranmu, membawa banyak cerita dan juga foto-foto. Saya janji’
Satu bulan pertama.
Bulan berikutnya
‘saya rindu kamu, kamu baik-baik disana?’
Bulan selanjutnya
‘saya bertemu teman disini, dia baik. Nanti saya kenalkan’
Bulan berikutnya
‘nanti saya kabari, saya sedang menyelami ilmu baru. saya semakin suka disini’
Bulan berikutnya, seterusnya, berikutnya, dan berikutnya
Tidak ada kabar
Khawatir
Cemas
Cemburu
Januari
‘besok saya pulang’
Akhirnya
Aku hanya butuh tiga kata itu, untuk meredam bom yg sudah hampir meledak diantara kata-kata yang tak bisa bersuara.
Ah ini hadiah ulang tahun yang paling aku tunggu.
‘kita bertemu ditempat biasa. Ada yg mau saya ceritakan’
Entah mengapa kalimat kedua menjadi begitu ganjil disetiap rongga pendengaranku, kita biasa hanya menggunakan kalimat pertama dan sama-sama tahu bahwa kita akan banyak cerita disana.
Bukankah cerita memang sesuatu yang akan kamu berikan ketika kamu pulang?
Aku sudah tahu, dan sungguh siap mendengarkan semuanya.
19.30
Aku seperti biasa datang lebih dulu
19.50
Akhirnya dia datang
Tapi
Dia begitu kusut
Berantakan
Bewokan
‘kamu baik-baik?’ tanyaku
‘saya tidak tahu mulai cerita dari mana’
Bagaimana petualanganmu? Menyenangkan? Mana hasil foto-foto nya?tanyaku berentetan.
‘Bukan itu yang ingin saya ceritakan’
‘lalu?’
‘tentang hubungan kita’
Oh tidak aku benci sekali mendengarnya
Dari semua gerak-geriknya, ucapannya yang berat, dan penampilannya yang kacau.
Aku sudah menerka-nerka ini tidak akan menjadi berita baik.
Aku diam dan terkesiap mendengar semuanya tanpa berkomentar
‘Waktu di Bali, saya bertemu dengan wanita asal Jakarta’
Oh tidak dia mulai
‘Dia mengajari saya banyak hal, memotret, mencuci film dan membawa saya ketempat-tempat yang belum pernah saya datangi’
Teruskan aku ingin mendengarnya
‘dia sebatang kara di Bali, keluarganya entah dimana menelantarkan dia sejak kecil’
Teruskan sayang,teruskan
‘dia bercerita tentang banyak hal, sampai akhirnya dia menetap di Bali dan bertahan hidup dengan hanya berprofesi memotret’
Aku tidak mau tahu, intinya saja sayang
‘satu waktu dia pernah mendatangi saya dengan menangis, lalu saya ajak dia jalan-jalan. Tapi karena dia yang lebih tahu Bali jadi dia yg memilih tempat’
Pasti bukan ini intinya, pasti adalagi
‘kita akhirnya ke sebuah bar, dia mabuk, saya juga’
Ohh ayolahhh pasti bukan ini
‘setelah itu saya dan dia pulang kerumahnya, lalu..’
Oh tidak beginikah cerita yang kamu janjikan
‘kita melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelum nya’
Kamu terjebak sayang, kamu terjebakk
‘maafkan saya, bukan begini akhiran yg saya mau. tapi saya harus bertanggung jawab dengan semua yg sudah saya lakukan. Saya tidak tega membiarkannya melakukan aborsi untuk ketiga kalinya’
Hentikan.
Hentikan.
Saya tidak sanggumendengarnya
‘maafkan saya, saya memang terlalu bajingan untuk kamu, saya tidak akan memaafkan diri saya tapi saya mau kamu maafkan saya. Saya sudah cukup tersiksa untuk itu. Kamu boleh tinggalin saya dan kubur semua mimpi-mimpi kita, saya telah hancur sayang’
Sudah.
Cukup.
Ini membuatku tersiksa.
‘minggu depan saya menikah dijakarta, dengan berat hati, saya mau kamu datang. Sekali lagi maafkan saya, saya masih akan mencintaimu walaupun dengan jalan yg berbeda’
Aku menjauh, lalu pergi dari tempat itu
aku butuh jeda untuk mencerna semuanya, semuanya.
Mulai dari kepergianmu, kepulanganmu, dan penjelasan mu.
Halah semua itu omong kosong! Sialan!
Aku tidak akan datang ke acara pernikahanmu, sangat menjijikan melihat kado ulang tahun berbentuk pengkhianatan bergandeng tangan. Mereka berdua dan buah hati yang tidak berdosa.
Aku benci berada diposisi ini, aku tidak tahu siapa yg harus lebih aku kasihani. Kamu, perempuan itu atau diriku sendiri…

Komentar